Beri “Asupan Gizi” untuk Hati Anda dengan Dzikrullah!

dzikir

“ORANG kok hatinya seperti batu,” demikan keluh seorang teman. Ia mengeluh atas ulah atasannya di tempat kerja yang dinilai sangat kaku, tak berperasaan dan dinilai kurang punya empati sosial dengan sesama.

Kasus seperti ini mudah kita temui. Di kantor, di lingkungan bahkan di lingkungan terdekat keluarga kita sendiri, di rumah. Sesungguhnya kematian hati tidak hanya merusak pribadi seseorang. Lebih jauh, matinya hati akan berdampak sangat serius bagi kelangsungan alam dan kehidupan itu sendiri. Berbagai macam problem kehidupan, dari pencemaran lingkungan hingga tawuran, dari mencuri hingga korupsi, dari menipu hingga membunuh, dari sekularisme hingga barbarisme, semuanya bermula dari hati yang mati.

Hati yang mati akan menggelapkan mata dari kebenaran, menjadikan telinga tuli dari kebaikan, lidah tak terkendali dalam menebar keburukan, dan tidak ada yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan selain perkara-perkara yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wata’ala. Orang yang mati hatinya akan mencintai kejahatan dan membenci kebaikan. Itulah hati Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, dan Abu Lahab. Itulah orang-orang yang telah menuhankan hawa nafsunya.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS: Al Jaatsiyah [45]: 23).

Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, dalam sebuah rekaman ceramahnya pernah menyampaikan bahwa, jika hati seseorang mati, maka ia akan melakukan hal-hal yang mengundang murka Allah, banyak orang yang akan dibenci, dimusuhi, dan dianiaya.
Bahkan orang seperti itu tidak akan pernah puas sebelum mereka yang dibenci dan dimusuhi enyah dari permukaan bumi. Senang bila melihat orang lain jatuh dan mati, dan sangat sedih jika ada orang lain mengunggulinya, apalagi sukses dan bahagia, melampaui apa yang telah diraihnya. Perumpamaan orang yang seperti itu sungguh sangat buruk. Al-Qur’an, sama sekali tidak dipahami dengan baik, baginya hidup adalah nafsu dan ambisi belaka.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“…Tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)…” (QS: Al A’raf [7]: 176).

Jadi, sebagai seorang Muslim, terutama di era globalisasi ini, kita tidak boleh lengah untuk memberikan ‘asupan gizi’ yang berkualitas untuk kesehatan hati kita masing-masing. Dan, untuk bagaimana menyehatkan hati manusia, Allah telah memberikan petunjuk yang luar biasa, agar kita tidak hidup menjadi manusia yang pendengki, pemaki, dan irasional (dholim).
Sifat-sifat negatif itu tidak lain adalah seruan setan agar manusia terjerembab dalam kesesatan dan kemurkaan Allah. Oleh karena itu, kita mesti waspada. Sebab setan sangat canggih, ia bisa menipu kita dengan cara yang sangat lembut, tersamar dan terselubung. Keberadaan setan-setan itulah yang sebenarnya menjadikan manusia terhijab dari cahaya Allah, sehingga hati menjadi mati.

“Jika setan-setan itu tidak mengelilingi hati anak Adam (manusia), mereka pasti dapat melihat alam malakut yang tinggi.” (HR. Ahmad).

Menurut Imam Ghazali dalam bukunya “Ajaibul Qalbi al-Awwal min Rubu’ al-Mukhlikat” hati memiliki dua pengertian. Pertama, segumpal daging yang berbentuk bulat panjang yang terletak di dada sebelah kiri, yang memiliki fungsi-fungsi tertentu. Di dalamnya terdapat rongga yang berisi darah hitam. Ini adalah sumber ruh atau nyawa.

Kedua, yaitu sesuatu yang halus (lathifah), bersifat ketuhanan (rabbaniyyah) dan ruhaniyah, yang berkaitan dengan hati secara fisik tadi

Lathifah (yang halus) itu adalah hakikat diri manusia. Ia mampu menangkap pengetahuan tentang Allah dan hal-hal spiritual lainnya, yang tidak mungkin dicapai dengan akal pikiran semata. Hati merupakan satu-satunya perangkat yang jika ia hidup pasti akan menjadikan indera fisik lainnya, benar dalam melihat makna realitas dan kebenaran, sehingga akan muncul sifat sholeh, santun, ramah, pemaaf, dan suka membantu orang lain.

Menghidupkan Hati

Tidak akan hidup hati seorang Muslim, kecuali dipelihara dengan baik oleh sang pemilik. Cara memelihara hati agar terus hidup hingga kita menghadap keharibaan-Nya tiada lain dengan senantiasa menggunakan akal untuk berfikir dan hati untuk berdzikir. Perpaduan dari keuda amalan tersebut akan menjadikan seorang Muslim menjadi insan ulul albab.

Yaitu insan yang apabila melihat, mendengar, atau merasa dia berfikir. Pada saat bersamaan, saat ia berdiri, duduk, berbaring, dia terus berdzikir. Inilah manusia yang memahami hakikat kehidupan, sehingga tidak ada fokus utama baginya melainkan berlindung kepada Allah dari panasnya api neraka, karena kelalaian dan kesombongan (QS. 3 : 190, 191). Orang demikian adalah orang yang hidup hatinya.

Hanya ulul albab yang akan bisa melihat dan meyakini sepenuh hati tentang kebesaran Allah. Dan, karena itu ia akan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Jadi, hatinya dikuasai dan dikenalikan oleh ilmu (hidayah), bukan ambisi atau pretensi, sehingga kelak ia akan meraih kesempunaan nikmat di dalam surga-Nya.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. 79 : 40, 41).

Jadi, untuk menghidupkan hati, setiap Muslim harus membangun tradisi dzikir dan fikir yang berkualitas. Yaitu berdzikir dan berfikir yang setiap saat menjadikan kita semakin siap menjadi Muslim kaffah, semakin bergairah dalam menegakkan kebenaran, semakin percaya diri menjadi seorang Muslim, semakin antusias mempersiapkan kematian, dan semakin rindu bertemu dengan Allah.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. 13 : 28).

Tanpa dzikir dan fikir yang berkualitas, seorang Muslim rawan dalam badai gelombang kehidupan, sehingga goyah keimanan dan keislamannya. Jika hal itu benar-benar terjadi, khawatir hatinya akan mengeras seperti batu dan mendapat kemurkaan Allah.

Imam Ghazali masih dalam kitab yang sama menjelaskan bahwa suatu ketika ada seseorang bertanya keapda Nabi, tentang makna firman Allah dalma surat Al-Zumar ayat 22.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. 39 : 22).

Orang itu bertanya, apa yang dimaksud dengan dibukakan hati itu? Nabi pun bersabda, “Yaitu kelapangan. Sesungguhnya jika cahaya telah dipancarkan ke dalam hati, maka dada menjadi lapang dan terbuka”.

Jadi, mari kita pelihara hati kita agar tetap hidup dalam naungan cahaya Ilahi. Sungguh, keimanan yang ada sekarang pada kita semua adalah nikmat tiada tara. Maka, janganlah disia-siakan. Perbanyaklah berpikir, bahwa dengan iman dalam hati, sebenarnya Allah telah janjikan surga kepada kita. Tetapi jika tidak, kita bisa salah dan tersesat.

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. 10 : 100).

Betapa bodohnya kita jika sudah diberi nikmat iman kemudian kita tidak syukuri dengan membiasakan dzikir dan fikir. Sementara, Allah telah memberikan peluang sangat besar bagi kita untuk meraih kebahagiaan. “Apakah kamu tidak berpikir,” demikian sindir Allah di beberapa penghujung ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Jika demikian, masihkah kita mau menghabiskan waktu untuk menatap layar televisi dengan pilihan favorit film dan sinetron? Masihkah kita akan mengisi waktu senggang dengan gosip atau ghibah? Masihkah kita akan mengedepankan ego dalam pergaulan, sehingga tidak ada orang yang benar kecuali dirinya? Mari kita biasakan diri berdzikir dan berfikir. Niscaya selamat hati kita, terjaga iman kita, dan bahagia hidup kita, dunia dan akhirat.*/Imam Nawawi
Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar

www.hidayatullah.com



NB :
- Anda Ingin Berdonasi, Silahkan Hubungi Sekretariat Kami di 021 – 700 955 06
- Mau Dapat Info Terbaru Kami Via E-mail

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Incoming search terms:

  • kisah taman2 di alam malakut/islami
  • rekaman alkuran terpadu
  • syukur taskiyatun nafs

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>